Halaman

Sabtu, 04 Desember 2010

David Ronald Warren Sang Penggagas Kotak Hitam (Flight Recorder)

Kotak Hitam (Flight Recorder)
MEDIA masa Australia pada tahun 1934 memberitakan kecelakaan jatuhnya sebuah pesawat penumpang de Haviland DH-86 dalam sebuah penerbangan rutinnya di sebelah timur negara itu. Pesawat yang jatuh dan tenggelam di Selat Bass itu menelan 12 korban jiwa. Ini berarti seluruh penumpang dan awaknya tewas.

Akibat peristiwa itu seorang anak berusia sembilan tahun yang bersekolah di sebuah Boarding School di Sydney kehilangan ayah untuk selamanya. Bocah itu bernama David Ronald Warren. Ayahnya Warren menjadi salah satu korban kecelakaan fatal pesawat itu. Hadiah terakhir sang ayah buat Warren Junior, anak kesayangannya sebelum terbang dengan pesawat naas itu adalah sebuah radio kristal. Benda inilah yang selanjutnya merangsang ketertarikan Warren muda dalam bidang elektronika.

Siapakah David Ronald Warren? Dialah yang di kemudian hari dikenal sebagai orang yang menggagas dan menciptakan Flight Recorder, alat yang digunakan merekam suara dan data penerbangan yang sangat berguna untuk inversitasi kecelakaan pesawat.

Digagas karena Frustrasi

Pada tahun 1948 dengan gelar sarjana yang disandangnya, David Ronald Warren diangkat menjadi ilmuwan peneliti di Laboratorium Penelitian Aeronautika milik pemerintah Australia di Melbourne. Salah satu tugasnya adalah meneliti penyebab suatu kecelakaan penerbangan.

Ketika terjadi peristiwa tragis jatuhnya pesawat de Haviland Comet (DH-106), pionir pesawat penumpang jet milik BOAC pada pertengahan tahun 1950-an, David ikut terlibat dalam investigasi kecelakaan yang menghebohkan itu dan diberitakan luas di mana-mana.

Rasa frustrasi saat melakukan invesrigas kecelakaan pesawat jet ini membuatnya menerawang jauh. Dia membayangkan tragedi yang merenggut nyawa ayahnya. Dia berpikir alangkah lebih mudah bila saja ada saksi hidup atau sebuah benda yang bisa bercerita. Solusinya adalah flight recorder.

Ide brilian itu digagas oleh David pada tahun 1954. Protoripe flight recorder yang dirancang mampu merekam pembicaraan di kokpit selama empat jam, juga bisa merekam beberapa data penerbangan, dan dinyatakan siap diuji coba pada 1957.

Sayangnya di Australia waktu itu tidak ada badan atau swasta yang bersedia mendanai pengembangannya, hingga kemudian datanglah seorang staf dari CAA (Civil Aviation Administration) otoritas penerbangan Inggris yang merasa tertarik, lalu mengundang David untuk melanjutkan gagasannya itu.

Pernah ketika dalam suatu penerbangan, pesawat yang ditumpangi David mengalami kedaruratan, salah satu mesinnya mendadak mati. Kebetulan sekali dia membawa prototipe perekamnya itu. Untuk mewaspadai terjadinya eskalasi kondisi yang kian memburuk, dia pun segera mengaktifkan alatnya. Katanya kemudian: "just in case." ' Ya siapa tahu!

Memberi Makna Hidup

Alkisah, Tuhan menciptakan manusia dengan jatah umur 20 tahun. Tapi, usia binatang rata-rata 40 tahun. Itu karena Tuhan ingin manusia bahagia saja sepenuhnnya dan tidak usah merasakan pahitnya dunia terlalu lama.

Ternyata, beberapa binatang merasa iri dan ingin seperti manusia. Datanglah sapi,
“Tuhan terlalu lama 40 tahun bagiku, kukembalikan 20 tahun”. Mendengar itu, manusia yang merasakan kebahagiaan, ingin memperpanjang kebahagiaanya. Maka, dimintanya 20 tahun dari sapi untuk dirinya. Tuhan mengabulkan.

Lalu datanglah anjing, dia mengembalikan yang 20 tahun umurnya, sekali lagi manusia memintanya.

Terakhir monyet datang. Dia juga mengembalikan 20 tahun umurnya, dan lagi-lagi manusia memintanya.

Maka jadilah yang diminta manusia itu:
20 tahun pertama hidup sebagai manusia, berbahagia, tidak banyak mengalami banyak masalah.

20 tahun kedua hiduplah manusia itu seperti sapi: bangun pagi pulang malam, kerja keras, banting tulang. Hidup seperti 7P: Pergi Pagi Pulang Petang Penghasilan Pas-Pasan.

20 tahun ketiga jadilah dia seperti anjing: anak-anaknya beranjak dewasa dan memiliki keluarga mereka sendiri. Ia memasuki masa pensiun dan aktivitasnya sehari-hari adalah menjaga cucu, menjaga kekayaan, menjaga rumah dan properti, persis seperti anjing penjaga.

20 tahun keempat jadilah dia seperti monyet: mulai renta, tidak banyak lagi melakukan aktivitas, mulai berkurang pendengaran dan penglihatan, sering menjadi bahan tertawaan cucu-cucunya.

Pesan Cerita:
Bukan masalah berapa panjang umur Anda, yang paling penting adalah bagaimana memberi makna setiap hari dalam hidup kita

Sumber :

Tanudibyo, Nancy. 2010. Kisah tentang Seekor Sapi yang Jujur. Media Pressindo. Jakarta.

Jumat, 03 Desember 2010

Halaman Mosi di Facebook

Halo sabahat Mosi ! Ada info terbaru nih buat sahabat semua. Kami telah membuat halaman Mosi di Facebook. Silahkan di kunjungi ya, dan jangan lupa Like atau Suka pada halaman tersebut, agar kata-kata motivasi dan inspirasi yang Mosi telah buat ada di halaman beranda sahabat.

Dan, jangan lupa untuk berbagi dengan sahabat Mosi yang lain, kirimkan kata-kata motivasi dan inspirasi yang sahabat miliki.

Klik link dibawah ini untuk menuju TKP

Mosi di Facebook

Efektivitas Kerja dalam Proses Administrasi

A. Pengertian Efektivitas Kerja

Semua kegiatan-kegiatan dalam organisasi baik itu organiasi pemerintah atau swasta, orientasi pemikirannya dan pelaksanaanya selalu dikaitkan dengan efisiensi dan efektivitas, artinya bagaimana agar kegiatan organisasi dalam mencapai tujuan dengan baik tanpa terjadi pemborosan. Begitu pula halnya dalam penyusunan sistem, prosedur kerja, beserta teknis pelaksanaanya hendaknya berlandaskan pada efisiensi dan efektivitas.

Efektivitas mengandung arti terjadinya efek atau akibat yang dikehendaki. Jadi, perbuatan seseorang yang efektif ialah perbuatan yang menimbulkan akibat sebagaimana dikehendaki oleh orang itu. Setiap pekerjaan yang efisien tentu berarti juga efektif, karena dilihat dari segi usaha, hasil yang dikehendaki telah tercapai dan bahkan dengan penggunaan unsur yang minimal. (The Liang Gie dalam Syamsi 2007: 2).

Suatu institusi pemerintah yang berhasil diukur dengan melihat seberapa jauh institusi tersebut dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Hal ini menyangkut tingkat efektivitas kerja pada institusi tersebut. Berikut ini pengertian dari efektivitas menurut para ahli.

Menurut Emerson (dalam Hasibuan 2005: 242) efektivitas adalah pengukuran dalam arti tercapainya sasaran atau tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.

Siswanto (2007: 55) dalam bukunya pengantar manajemen mengemukankan bahwa efektivitas berarti menjalankan pekerjaan yang benar. Efektivitas berarti kemampuan untuk memilih sasaran yang tepat. Manajer yang efektif adalah manajer yang memilih pekerjaan yang benar untuk dijalankan.

Sedangkan menurut Miller (dalam Tangkilisan 2007: 138) mengemukakan bahwa.
“Effectiveness be define as the degree to which a social system achieve its goal. Effectiveness must be distinguished from efficiency. Efficiency is mainly concerned with goal attainments”.
(Efektivitas dimaksud sebagai tingkat seberapa jauh suatu sistem sosial mencapai tujuannya. Efektivitas ini harus dibedakan dengan efisiensi. Efisiensi terutama mengandung pengertian perbandingan antara biaya dan hasil, sedangkan efektivitas secara langsung dihubungkan dengan pencapaian suatu tujuan.)

Dari beberapa pendapat tersebut diatas, dapat kita simpulkan bahwa efektivitas menyangkut seberapa jauh keberhasilan yang telah dicapai dalam suatu organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Efektivitas dan efisiensi tentunya berbeda, dimana efektivitas menekankan pada pencapaian tujuan (berhasil guna) sedangkan efisiensi menekankan kepada penggunaan sumber daya yang ada (berdaya guna).

Hasrat yang Tak Jelas

Dekanat Fisip Unmul
Akhirnya dapat kesempatan juga foto-foto diatas gedung dekanat. Salah satu hal yang sebenarnya tidak terlalu penting untuk dilakukan. Yang jelas, waktu liat ada beberapa Mahasiswa yang foto-foto di atas sana, saat itulah muncul hasrat pengen banget ngelakuin kayak mereka.

Kemudian, salah dua alasan nongkrong disana adalah viewnya yang asik banget, apalagi duduk-duduk sambil ngemil. Kayaknya mantap banget tuh, tapi waktu cuaca lagi bersahabat, mendung-mendung gitu deh, kalau matahari lagi cerah, sebaiknya jangan dilakukan, puanasnya minta ampun (yaeyalah panas, namanya juga diatas gedung). Mungkin hal tersebut adalah dampak dari global warming, makanya semakin hari, semakin lama bumi makin panas. Bagaimana tidak panas, kalau hutan tiap hari ditebang, kemudian pencemaran udara dari industri yang tidak henti-hentinya. Terlebih lagi negara-negara maju tidak mau menurunkan emisi gasnya. Mereka lebih memilih memberikan kompensasi kepada negara berkembang (dari pada menurunkan emisinya) seperti negara Indonesia untuk menanam pohon. Mungkin bahasa kasarnya,
“Negara ane gak bisa nurunin emisi, tar produksi turun. Gini aja, ambil ni duit, bisa untuk tanam satu juta pohon tapi urusan ngurus pohonnya sampe gede, itu urusan ente ye..!”

STOP... STOP...! Ini ngomongin global warming atau hal gak’ jelas yang aku lakuin diatas gedung dekanat ya?. Kayaknya harus kembali kejalan yang benar.

Singkat cerita, saya berhasil foto-foto disana, menggunakan kamera pinjaman Dadank, yang fotoin adalah saudara Bahar, untuk kedua orang tersebut saya ucapkan terimakasih karena telah memuaskan hasratku :P. Semoga amal ibadah Anda-anda sekalian, diterima disisi Allah SWT.

Amin